Tachyon? Apa itu tachyon? Barangkali itulah yang pertama kali terpikir didalam benak kita. Tachyon jelas merupakan kata yang asing bagi telinga kita. Belum banyak buku-buku/ referensi yang menjelaskan mengenai tachyon. Kalaupun ada itupun masih dalam bahasa fisika kuatum yang cukup sulit dipahami oleh orang awam. Secara sederhana tachyon adalah sebutan bagi sebuah obyek yang muncul dalam perhitungan fisika kuantum yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya.
Saya mendapatkan informasi mengenai tachyon pertama kali dari pertanyaan yang saya tanyakan di dalam forum Yahoo!Answer. Waktu itu saya menanyakan apakah ada yang bergerak melebihi kecepatan cahaya? Nah dari beberapa jawaban yang saya terima terdapat jawaban yang mengatakan bahwa tachyon bergerak melebihi kecepatan cahaya. Saya jadi penasaran dengan obyek yang disebut dengan tachyon ini. Saya segera membuka mesin pencari Google untuk mendapatkan referensi mengenai tachyon ini. Hasil pencarian muncul tujuan pertama situs Wikipedia yang memang dibuat untuk menampung artikel-artikel mengenai ilmu pengetahuan (Ensiklopedia online). Dari membaca artikel tersebut saya mendapat gambaran besar mengenai Tachyon, meskipun saya tidak mengerti secara keseluruhan penjelasan tentang tachyon pada artikel tersebut karena masih terlalu rumit bagi otak awam saya. Saya mencoba mencari referensi mengenai tachyon dari situs lain yang ditampilkan dalam hasil pencarian Google. Tapi penjelasan yang didapat intinya sama (sama-sama tidak bisa dimengerti maksudnya/ bingung).
Akhirnya pakai solusi terakhir bertanya lagi di Yahoo!Answer. Eh, yang jawab Cuma satu orang. Jawabannya panjang sekali. Ini dia jawabannya:
"TACHYON adalah objek atau materi yang dapat mencapai kecepatan cahaya. Lalu apa yang terjadi jika sebuah objek telah bergerak dengan kecepatan yang melebihi cahaya sejak ia tercipta? Bukankah ia takkan pernah muncul dalam realitas? Yang kita istilahkan sebagai tak pernah ada? Maka tachyon pun tak pernah mencapai kecepatan cahaya, kecepatan cahaya tak pernah tercapai olehnya karena terlalu pelan baginya. Di lain pihak, tachyon memiliki massa imajiner, artinya jika bilangan yang menunjukkan massa tachyon kita kuadratkan maka hasilnya merupakan bilangan negatif. Ini sungguh tak cocok dengan realitas. Yang lebih gila lagi, tachyon dapat melanggar arah waktu. Sehingga dua pengamat bisa tidak sependapat manakah kejadian tachyon yang terjadi lebih dahulu. Inilah yang disebut dengan kekacauan sebab akibat, mana sebab mana akibat?
G. Sudharsan mengajukan 3 alasan mengapa seharusnya para fisikawan memburu partikel hipotetis ini, pertama, tak ada alasan untuk percaya bahwa tachyon tak ada, bandingkan alasan ini dengan yang menhipotesiskan eksistensi partikel energi negatif yang kemudian diketemukan oleh Carl Anderson sebagai Positron. Kedua, tachyon tetap muncul dalam penghitungan matematis yang merupakan jantung dari fisika teori. Ketiga, tachyon dapat memberikan informasi yang bisa membantu pengungkapan misteri dalam fisika partikel, astrofisika, dan kosmologi jika ia benar-benar muncul. Sesungguhnya pemunculan tachyon akan banyak menyingkap misteri tentang arah waktu.
Aharon Davidson dari universitas Ben Guiron mendapati dalam penghitungannya bahwa semua partikel elementer yang kita kenal dalam semesta tiga dimensi akan menjadi tachyon bila diamati dari sudut pandang empat dimensi. Davidson juga mendapati bahwa tachyon dimensi tinggi ini juga memberikan penalaran tentang sifat-sifat dimensi ke-empat yang biasanya hanya berupa asumsi. Dia juga mengatakan bahwa kita tidak mengetahui apa arti kausalitas (sebab-akibat) di dunia empat dimensi, karena itu bukan problem yang penting di sana, seperti kausalitas di dunia tiga dimensi kita.
Namun dunia tachyon ini pula yang sering merepotkan para ahli yang menggeluti teori Superstring yang saat ini begitu populer sebagai cikal bakal "Theory Of Everything". Tachyon dianggap sebagai pembunuh potensial bagi ahli superstring sebagaimana pembagian dengan bilangan nol dalam Aljabar atau dalam proses komputasi. Namun ada sebagian ahli yang menyimak kemungkinan bahwa tachyon merupakan sebuah konsekwensi penting dari teori string ketimbang sebagai suatu penyakit. Hal ini seperti Einstein yang tidak menyadari bahwa teori relativitas umumnya telah mengimplikasikan semesta yang mengembang, tidak statis sehingga perlu memasukkan tetapan kosmologi agar persamaanya cocok bagi semesta yang statis (saat itu orang tak tahu bahwa semeta kita mengembang sampai Hubble menemukannya). Einstein pun kemudian mengatakan bahwa pelibatan tetapan kosmologinya merupakan sebuah kesalahan besar.
Teori Relativitas Einstein tidak memperkenankan benda bermassa diam untuk bergerak dengan laju lebih pesat daripada cahaya, namun prinsip ketidakpastian mekanika kuantum mengijinkannya. Hal ini terjadi pada kasus penguapan lubang hitam atau Radiasi Hawking. Secara klasik memang tidak mungkin ada partikel yang bisa lolos dari perangkap lubang hitam, karena untuk melepaskan diri dari tarikan gravitasinya, suatu partikel harus mampu bergerak lebih cepat dari cahaya, namun pelibatan mekanika kuantum memungkinkan adanya 'efek tunneling' sehingga dimungkinkan bagi sebuah partikel untuk menerobos horison peristiwa sebuah lubang hitam. Partikel yang dapat menerobos tersebut bisa ditafsirkan berkecepatan lebih tinggi dari cahaya (bila tidak demikian maka tak ada partikel/radiasi yang dapat keluar dari lubang hitam dan teori radiasi hawkingpun tidak syah lagi.)"
(Bersambung ke Tachyon bagian 2)
Versi PDF ==> Rapidshare --- Ziddu --- 4shared --- Ziddu
(Bersambung ke Tachyon bagian 2)
Versi PDF ==> Rapidshare --- Ziddu --- 4shared --- Ziddu


No comments:
Post a Comment